Hanya Dalam 7 Hari Istriku Membawaku Pulang Dari Selingkuhanku Hanya Dengan 100 Ribu Rupiah Aku Langsung Berubah Pikiran

Pagi itu aku pergi ke kantor, di meja kantorku sudah ada dokumen dari Sandra dan segelas kopi panas darinya, aku menghirupnya wangi sekali.. Baru aku duduk, Sandra masuk ke ruanganku dan mempersiapkan beberapa dokumen. Waktu dia mau keluar, aku tiba-tiba tersadar dari lamunanku dan memanggilnya, "Tolong bantu aku booking restoran di Hotel sebelah, hari jumat malam."

Hari jumat datang, aku menjemput istriku, istriku genap 40 tahun hari itu, dia adalah seorang dokter kepala sebuah rumah sakit. Waktu masuk ke hotel, istriku melihat sekeliling hotel mewah itu, dia kelihatannya sangat tidak nyaman.

Hanya Dalam 7 Hari Istriku Membawaku Pulang Dari Selingkuhanku Hanya Dengan 100 Ribu Rupiah Aku Langsung Berubah Pikiran

Habis Baca Ini Cerpen Jadi Mengerti Manusia Itu Sering Tersesat Dalam Hidup Tapi Bukan Berarti Gak Bisa Kembali Lagi

Sesampainya di restoran, kami bertemu dengan beberapa rekanku, semua memakai jas dan gaun yang cantik, istriku semakin tidak nyaman. Dia dengan sedikit kesal melihatku sekilas, aku tahu aku sepertinya salah, aku tidak seharusnya membawanya ke sini, lebih tidak seharusnya mengajaknya bertemu dengan orang-orang kantorku.

Aku duduk di samping istriku, makan malam itu pun dimulai. Kami mulai mengobrol dan saling bersulang, istriku tidak biasa berada di dalam lingkungan seperti itu. Saat itulah Sandra datang untuk bersulang, aku berpura-pura tidak ada apa-apa, aku memperkenalkan istriku padanya. Istriku melihatnya, lalu melihatku, kemudian dia jadi gugup dan tidak sengaja menarik taplak meja, akhirnya minuman di meja tumpah ke bajunya. Sandra langsung cepat-cepat membantu istriku untuk membersihkannya.

Gaul

Hanya Dalam 7 Hari Istriku Membawaku Pulang Dari Selingkuhanku Hanya Dengan 100 Ribu Rupiah Aku Langsung Berubah Pikiran

Setelah makan, semua orang mulai mengobrol, istriku sudah terlihat sangat tidak nyaman berada di sana, aku bilang sama Sandra aku dan istriku pulang duluan. Aku mengajaknya ke kantorku, istriku berjalan di sampingku, dia kemudian berkata, "Semua pegawaimu jauh lebih cantik yang aku kira, semuanya sangat anggun, apalagi Sandra, bahkan cewek pun pasti akan melihat dia beberapa kali. Ya memang begitu, kamu berbakat, pasti banyak wanita yang suka. Kalau aku boleh memilih lagi, aku lebih memilih jadi temanmu saja, bukan istrimu."

Aku menjawab, "Asalnya mau kamu seneng malem ini. Udah berapa tahun, aku sering traktir banyak orang makan, tapi aku ga pernah bawa kamu makan mewah. Aku sering sibuk dan meninggalkan kamu dan anak di rumah. Aku berhutang terlalu banyak sama kamu. Hari ini ulang tahun kamu, aku ingin kamu menikmatinya." aku melihat wajah istriku sangat murung. Semua orang mengucapkan selamat ulang tahun padanya, tapi bagi wanita berusia 40 tahun, kebahagiaannya tidak dua kali lebih lipat dari ulang tahun ke-20.

Aku merasa bersalah pada istriku, aku mengajaknya berjalan mengelilingi kantor. Dia melihat sekeliling kemudian bertanya, "Semua ini punya kamu? Bagus ya, selama bertahun-tahun ini, kerja keras kamu gak sia-sia." Aku bertanya padanya, "Kamu gak mau tanya berapa kekayaanku sekarang?" Namun istriku hanya menggeleng, aku melanjutkan, "Aku sudah siapkan hadiah ulang tahun untukmu. Tapi, melihat kamu begitu berkorban untukku selama ini, kamu bilang kamu mau apa, aku pasti akan kasih."

Habis Baca Ini Cerpen Jadi Mengerti Manusia Itu Sering Tersesat Dalam Hidup Tapi Bukan Berarti Gak Bisa Kembali Lagi

Hanya Dalam 7 Hari Istriku Membawaku Pulang Dari Selingkuhanku Hanya Dengan 100 Ribu Rupiah Aku Langsung Berubah Pikiran

Istriku kembali menggelengkan kepala, "Aku cuman mau kamu dan anakku."

Aku terdiam, aku gak berani menatapnya. Kami kemudian pulang ke rumah, di depan rumah aku sudah siapkan satu buah mobil baru, di dalamnya ada sebuah ponsel terbaru dan sebuah buku tabungan. Melihat semua hadiah ini, istriku sama sekali tidak ada ekspresi senang, dia malahan sibuk untuk mencari uban di atas kepalaku.

Dia bilang, "Aku inget dulu kita sering pindah rumah, waktu itu anak kita baru 7 tahun, aku lagi beresin baju kamu, kamu gak di rumah, lalu Bobby terus melihatku, lalu tiba-tiba bertanya, 'Ma, mama cinta gak sama papaku?' aku kaget, aku gak tahu gimana menjawab. Pertanyaan itu membuatku terdiam, saat itu aku gak tahu dalam hatiku ada berapa banyak cita untukmu, kadang kala kehidupan ini membuat kita jadi orang asing. Saat itulah, Bobby kemudian berkata lagi. 'Mama cinta papa, kalau nggak ngapain bantuin papa lipet baju?'"

Anak sebenarnya adalah saksi dari kebahagiaan keluarga. Detik itu, hatiku terenyuh, aku tidak bisa berkata-kata apa-apa lagi.

Malam itu aku berbaring di ranjang, tidak bisa tidur. Di dalam otakku, terus muncul bayangan wajah Sandra yang cantik dan sangat muda. Aku mengumpulkan keberanian, kemudian berkata pada istriku. "Aku beri kamu banyak hadiah, kamu bisa kasih aku satu gak?"

Istriku memandangku dengan tatapan ketakutan. Beberapa menit kemudian, dia menjawab, "Aku gak punya apa-apa, bisa kasih apa?"

"Kamu tahu apa yang aku mau, kamu punya, ya memang cuman kamu yang punya." aku terpaksa mengatakannya..

Kemudian kami terdiam lama sekali malam itu. Tatapan mata istriku sudah mengatakan semuanya, mengatakan isi hatinya yang paling dalam. Dia tahu apa yang aku mau, dia tahu hadiah seperti ini sama seperti memberikan seluruh hidupnya. Istriku kemudian membalik badan dan memberikanku punggungnya, namun tanpa jawaban.

Setelah lama sekali, dia kemudian menarik nafas panjang, kemudian mengatakan kalimat yang taka akan bisa aku lupakan, "Aku kasih, asalkan kamu bahagia." akupun terdiam.

Istriku melanjutkan, "Kalau aku gak bisa kasih kamu bahagia, ya aku kembalikan kebebasanmu."

"Kamu benci aku?" aku memecah keheningan lagi..

"Aku gak benci, hanya menyesal." suara istriku semakin kecil, aku tahu dalam hatinya dia sangat sakit.

"Kalau nanti kamu ada masalah, kamu bisa cari aku, apapun yang kamu mau, aku bisa kasih."

"Aku ga butuh apa-apa, aku ini dokter, aku masih perlu apa? Buku tabungan itu aku simpan, buat uang sekolah Bobby nanti kalau kuliah, mobil dan handphonenya kamu bawa aja, aku gak butuh. Kalau kamu bener-bener pengen kasih aku hadiah, kasih waktu kamu aja lebih banyak buat aku, itu jaduh lebih berharga. Kita sudah menikah 15 tahun, aku mau kamu kasih aku 15 hari, kita ke kampung ke rumah nenek tempat kita menikah, kita memulai dari sana, ya berakhir di sana juga, anggap aja kita sudah berjalan satu putaran."

Hanya Dalam 7 Hari Istriku Membawaku Pulang Dari Selingkuhanku Hanya Dengan 100 Ribu Rupiah Aku Langsung Berubah Pikiran

Aku hanya mengangguk dalam diam.

Perjalanan ini, aku hanya mendengarkan istriku. Dia tidak ingin naik mobil, aku gak bawa mobil. Kami naik bus dari rumah, melewati sebuah perempatan besar. Istriku berbicara sendiri, "Kamu masih ingat gak dulu, setiap malem kita akan kesini buat jalan-jalan setelah makan? Suatu malam hujan besar, semua orang pulang ke rumah, cuman kita yang berjalan di tengah hujan, semua orang melihat kita dan merasa kita sangat romantis, sebenarnya kita gak punya rumah. Malam itu kamu tunjuk sebuah rumah yang terang dan besar, kemudian bilang, 'kasih aku waktu, aku akan beli rumah milik kita sendiri.' saat itulah aku memutuskan untuk menyerahkan sepanjang sisa hidupku bersamamu. Sekarang kita punya rumah mewah yang diinginkan banyak orang, tapi" istriku tidak sanggup melanjutkannya.

Mataku mulai berkaca-kaca, aku merangkul istriku.

Sampai di stasiun, ternyata hari itu keretanya penuh, istriku memegang lenganku dengan kencang, aku membawanya melewati kerumunan itu sampai naik ke kereta. Di dalam kereta, aku melihat pemandangan yang sangat aku kenali, aku teringat akan pernikahan kami dulu.

Waktu itu aku baru mulai kerja, orang tuaku tinggal di luar kota, hanya aku yang tinggal disini. Waktu memutuskan menikah dengan istriku, aku hanya punya uang 100 ribu rupiah, bahkan untuk membelikannya baju baru pun juga gak cukup. Istriku menggunakan penghasilannya sendiri membeli sebuah wajan baru dan membelikanku baju baru. Kami gak punya uang mengadakan pesta, hanya menggunakan 100 ribu ini ke rumah nenek di kampung, kemudian kami keliling satu kampung dan itulah pernikahan kami.

Setelah turun dari kereta, tidak ada lagi mobil untuk mencapai kampung nenek. Kami juga lupa memberitahu orang di rumah nenek untuk menjemput kami. Istriku malah berkata, "Yuk jalan.."

Aku kaget, "10 kilometer, gimana jalannya?" Istriku berkata, "Dulu bukannya kita sering jalan? Aku inget dulu waktu aku sakit tengah malem, kamu rela jalan beberapa jam untuk beliin aku obat. Kita belum tua sekarang, masih bisa jalan!"

Sudah begitu lama gak jalan, baru jalan beberapa langkah aku udah keringetan, pinggang juga sakit. Akhirnya sepanjang jalan aku berhenti beberapa kali untuk istirahat, kamu juga mengobrol dan melihat pemandangan indah di sana.

Kampung ini gak jauh dari kota tempat kami tinggal, namun seperti dunia yang berbeda. Di jalan, banyak pemuda yang membonceng pacarnya melewati samping kamu, karena jalan kampung gak rata, para pemuda itu sering bilang, "Pegangan yang kenceng ya!" gadis di belakangnya pasti langsung memeluk erat kekasihnya itu, bahkan menaruh wajahnya di punggung kekasihnya. Aku tersentuh melihatnya, aku melihat istriku, dia juga tersentuh, dia langsung menggandeng lenganku. Kami berjalan terus, semakin lama aku merasa semakin indah.

Tanpa terasa, langin sepertinya mendung dan mau hujan. Tidak lama, hujan turun dan semakin deras, aku dan istriku cepat-cepat mencari tempat untuk berteduh. Baju istriku sudah basah semua, dia kedinginan, aku melihatnya dan merasakan perasaan yang sangat hebat, aku memeluknya, kemudian kami berdua duduk di tepi sawah, aku membiarkan istriku berbaring di atas kakiku. Dia tidak bergerak, aku tahu dia tidak tidur, kami hanya terhanyut dalam pemikiran masing-masing.

15 tahun, di dalam hari-hari yang miskin dulu, kami memang hidup sangat sulit, namun sangat menyenangkan. Kami sering berjuang bersama, kami sering duduk memandang jendela kecil di rumah dan bermimpi suatu hari akan hidup lebih layak.

Namun sekarang, setelah aku berani melangkah dan berhasil, bahkan berjuang bertahun-tahun, aku bisa memberikan istriku segalanya, namun sebentar lagi aku malah kehilangan dirinya. Aku tidak tahu dia berpikir apa, aku juga tidak tahu kenapa aku membuat semuanya jadi seperti ini.

Istriku terbangun, wajahnya penuh dengan air mata, ia kemudian memelukku, kemudian mencium pipiku. Di detik itu, aku merasa dunia ini  menjauh dari kami berdua.

Aku sadar kami saling bergantung satu sama lain. Sebenarnya dalam sebuah pernikahan, hanya diperlukan saling mengerti, saling berkomunikasi dan saling memberikan ruang, tanpa harus rumah yang besar, asalkan di dalam hati ini ada tempat untuknya, hanya tempat untuknya.

Hanya Dalam 7 Hari Istriku Membawaku Pulang Dari Selingkuhanku Hanya Dengan 100 Ribu Rupiah Aku Langsung Berubah Pikiran

Sesampainya di rumah nenek, hari sudah sore, nenek dengan sangat gembira menyambut kamu dengan berbagai makanan. Kami sangat bahagia hari itu. Saat makan malam, aku melihat istriku, aku teringat tahun-tahun dahulu saat dia selalu menyisakan dagingnya untukku, hatiku hangat. Inilah keluarga, walaupun kelihatannya sangat kumuh, namun lebih berasa seperti keluarga daripada rumah mewahku di kota.

Awalnya aku ingin cepat pulang dari kampung, namun semakin lama aku malah merasa nyaman dengan hidup di kampung, aku tidak ingin pulang. Di sana semua sangat nyaman dan santai. Tidak ada ponsel, tidak ada internet, namun sangat menyenangkan.

Setiap sore, aku dan istriku duduk di teras rumah dan melihat banyak penduduk desa yang melewat. Pemandangan yang sangat indah, aku dan istriku mulai mengomentari banyak hal.

Satu kali ada seorang gadis yang lewat di depan rumah, istriku sempat berkata, "Gadis ini mirip sama Sandra."

Saat itulah aku mendengar ada senandung lagu lama di depan rumahku, entah siapa yang memutar lagu setua itu. Di tengah langit yang mulai gelap, lagu itu memabukkanku, namun juga menyadarkanku, selingkuhanku itu sama dengan lagu populer, bisa membuat kamu jatuh cinta dalam sekejap saja, namun itu sementara, sedangkan istriku sama dengan lagu tua yang sedag aku dengar sekarang, menyentuh sampai ke dalam hati, tidak peduli perubahan apapun, tidak ada yang bisa menggantikannya.

Aku menoleh untuk melihat istriku, namun dia sudah tidak ada di sana. Aku cepat-cepat masuk ke rumah, istriku sedang beres-beres barang, itu baru hari ke-7 kami ada di kampung. Istriku berkata, "perusahaan kamu begitu sibuk, kita pulang cepetan aja. Lagipula, pulang lebih cepet, kamu bisa temenin Bobby dulu beberapa hari. Anak kita udah besar, sebagai ayah kamu harus jadi contoh yang baik baginya."

Aku setuju, aku terus berpikir di hadapan istriku, aku baru menyadari ternyata selama ini aku hanyalah pria yang suka ngomong teori dan hal-hal besar, namun sebenarnya semua hal itu jauh sekali dari kehidupan kita. Aku baru sadar, wanita memang adalah seniman yang sangat hebat dalam hidup lelaki, merekalah yang melukiskan keindahan sebuah keluarga.

Di tengah perjalanan pulang, aku merasa diriku berubah menjadi orang lain. Aku dan istriku pulang ke rumah kami, istriku menyiapkan makan malam untukku, kami sepertinya kembali ke kehidupan sebelumnya. Malam itu, istriku melihatku, sepertinya ingin mengatakan sesuatu. Aku menggenggam tangannya, "Aku akan tetap tinggal, selama beberapa hari ini aku terus berpikir, kamu mungkin tidak sempurna, kamu mungkin bukan yang paling baik, tapi kamu yang paling cocok untukku."

Aku melihat mata istriku berkaca-kaca, "Benarkah? Kamu gak jadi pergi? Kamu gak akan nyesel?"

Hanya Dalam 7 Hari Istriku Membawaku Pulang Dari Selingkuhanku Hanya Dengan 100 Ribu Rupiah Aku Langsung Berubah Pikiran

"Ya, aku gak pergi, aku suka rumah ini, walaupun aku dan kamu suka bertengkar dan berbeda pendapat, kadang bahkan merasa asing, tapi kamu itu istriku, ini adalah rumahku, keluargaku, aku mau tetap tinggal. Aku punya tiga alasan untuk tinggal: pertama, tidak ada orang yang lebih mencintai anakku selain kamu. Kedua, masa lalumu hanya ada aku. Di kota ini ada begitu banyak wanita yang sudah memiliki masa lalu sendiri, namun pria tidak suka wanita dengan masa lalu. Ketiga, aku hanya menikahimu dengan seratus ribu rupiah. Di mana lagi aku bisa mencari wanita yang mau menyerahkan seluruh hidupnya untukku hanya dengan seratus ribu rupiah?"

Istriku melihatku sangat lama, ia menangis.. Namun pada akhirnya, aku melihat senyuman di wajahnya..

Sumber (Tragedi)

Gaul

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *