Jangan Tingkatkan Rasa Pede Anakmu Dengan Memuji Berlebihan Saat Si Kecil Berhasil Mengerjakan Sesuatu Orangtua Jerman Akan Melakukan Ini

"Kamu hebat banget, ayo coba makan satu mulut!" , "Ini makanannya enak banget,lho! Ada keju kesukaan kamu juga, ayo coba dimakan!"

Sebagai orangtua, kalimat mana yang lebih sering kamu katakan pada anakmu? Yang pertama atau yang kedua?

Memuji anak memang sudah menjadi hal yang lumrah bagi orangtua. Bisa dibilang, meskipun ada ingus yang bergelantungan di hidung anak, para orangtua juga tidak akan merasa ilfeel, malahan makin gemes!

Jangan Tingkatkan Rasa Pede Anakmu Dengan Memuji Berlebihan Saat Si Kecil Berhasil Mengerjakan Sesuatu Orangtua Jerman Akan Melakukan Ini

Wah Bener Juga Para Orangtua Wajib Baca

Demi meningkatkan rasa percaya diri anak, banyak sekali orangtua yang sengaja memuji anaknya. Memang memuji anak itu tidak salah, tapi kalau kamu sudah berlebihan, maka lama kelamaan "pujian" tersebut akan menjadi tidak bermakna.

Jangan sampai kamu membuat anakmu terlena dalam puji- pujian, karena sekali mereka tidak dipuji, bisa- bisa mereka merasa hampa, atau bahkan sama sekali tidak bisa menerima kritik dan mengaku salah!

Gaul

Jadi bagaimana cara menumbuhkan rasa percaya diri anak dengan tepat?

Saat sang anak berhasil mengerjakan sesuatu, para orangtua Jerman tidak akan memuji berlebihan, mereka hanya akan menganggukan kepala dengan ekspresi yakin.

Jangan Tingkatkan Rasa Pede Anakmu Dengan Memuji Berlebihan Saat Si Kecil Berhasil Mengerjakan Sesuatu Orangtua Jerman Akan Melakukan Ini

Pujian sangat dijunjung tinggi oleh orang Jerman, jadi mereka tidak akan sembarangan melontarkan kata- kata pujian.

Wah Bener Juga Para Orangtua Wajib Baca

Mereka juga akan berusaha untuk tidak menggunakan kalimat- kalimat abstrak.

Saat kamu ingin memuji anakmu, sebaiknya katakan dengan jelas "hal apa yang kamu anggap sudah dilakukan dengan baik". Dibandingkan dengan berkata, "Wah, kamu hebat! Kamu pintar!", kamu bisa coba dengan mendeskripsikan lebih jelas, "Wah! Kamu berhasil nyusun puzzle-nya sendiri,lho!",atau "Kamu kakak yang hebat, nih! Bisa bantu adik memakai sepatu!"

Cara memuji seperti ini harus benar- benar diperhatikan oleh orangtua. Kalau kamu memuji dengan jelas, maka sang anak pun bisa tahu "alasan dia dipuji".

Di sisi lain, para guru TK di Jerman juga selalu menganggap: saat anak kecil mampu mengerjakan sesuatu yang adalah "bagian dari proses pengembangan kemampuan diri" (Seperti makan, ikat tali sepatu, membereskan mainan, dll), maka mereka tidak perlu dipuji berlebihan, seperti "Udah habis ya makannya, hebat!" atau "Wah, kamu nurut banget ya, mainannya udah diberesin semua!". Bila anak- anak tersebut berhasil melakukan semua hal di atas, maka orang dewasa hanya perlu menganggukan kepala sambil tersenyum, atau mengucapkan terima kasih.

Di bawah ini ada cerita yang dialami sendiri oleh seorang guru TK lokal Taiwan bernama Kate.

Suatu hari, saat anak- anak TK istirahat makan siang, Kate melihat seorang anak bernama Lola sama sekali tidak makan sayur yang disediakan, ia hanya makan sepotong roti saja. Akhirnya Kate pun menghampiri Lola dan berkata, "Lola kan anak pintar! Ayo makan sayurnya!". Tanpa membantah, Lola langsung makan satu mulut. Saat itu Kate langsung berkata lagi, "Nah, hebat! Ayo, lanjut makan lagi sisanya!". Setelah coba satu mulut, ternyata Lola tidak suka rasa sayur tersebut, sehingga ia tidak ingin makan lagi. Akhirnya, siang itu Lola hanya makan sepotong roti dan satu mulut sayuran.

Setelah jam makan siang berakhir, anak- anak pun diberi waktu tidur siang. Saat ini guru- guru langsung rapat dan berdiskusi sedikit tentang kejadian makan siang tersebut.

"Kate, saya ingin berdiskusi sedikit tentang kejadian Lola tadi.", kata Aila, seorang guru Jerman yang juga mengajar di sana.

"Saya harap kamu tidak keberatan bila saya berkata langsung, tapi menurut saya, sebagai guru, kita tidak seharusnya memuji anak untuk makan."

Kate pun langsung heran dan berkata, "Saya tidak mengerti, saya hanya ingin dia coba satu mulut, kalau dia suka, siapa tahu dia bisa menghabiskan makanannya. Bukannya seperti ini bisa lebih baik?"

Aila pun membalas, "Mendorong anak untuk makan memang tidak salah, tapi 'cara kamu mengungkapkannya' harus lebih diperhatikan. Mau makan atau tidak makan seharusnya adalah pilihan anak itu sendiri, sebagai guru, tanggung jawab kita  hanya menyediakan makanan bergizi untuk anak. Mengenai anak tersebut makan banyak atau sedikit, atau mau makan makanan yang mana, semua itu sama sekali tidak behubungan dengan meningkatkan kemampuan anak. Makanya, kita harus mendiskusikan lagi bagaimana cara memotivasi anak- anak yang tidak ingin makan."

Ya, benar. Begitulah cara pandang orang Jerman.

Siang itu, semua guru cukup menghabiskan banyak waktu untuk mendiskusikan hal ini. Akhirnya, kesimpulan yang didapat adalah: semua guru setuju kalau "makan" adalah salah satu "kemampuan mengurus diri" yang harus dikembangkan oleh anak. Oleh karena itu, para guru harus menggunakan cara yang tepat saat memotivasi anak untuk makan, seperti: "Makanan ini enak banget,lho! Ada keju kesukaan kamu juga di dalamnya, kamu cobain, deh!"

Perhatikan kalimat di atas, dalam kalimat tersebut sama sekali tidak mengandung "pujian", tapi tetap bisa memotivasi anak untuk makan.

Para orangtua harus memperhatikan hal ini, gak semua cara harus dilakukan dengan pujian.

Kalau kamu mau meningkatkan rasa percaya diri anak, seharusnya kamu tidak boleh menekankan betapa hebatnya anakmu. Tekankanlah pujian pada "proses perjuangan" anak, bukan "hasilnya". Dengan cara seperti ini, anak baru bisa membaca "tujuan dukungan orangtua" dengan tepat dan merasa kemampuannya diakui, bukannya malah percaya diri karena dipuji.

Sumber (Tragedi)

Gaul

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *